Uber, Airbnb Sampai Xiaomi: Startup yang Mengguncang

Foto: GettyImagesFoto: GettyImages

Jakarta - "Uber, perusahaan taksi terbesar dunia, tak punya kendaraan. Alibaba, retailer paling bernilai, tak memiliki gudang. Dan Airbnb, penyedia kemudahan terbesar, tak punya properti. Sesuatu yang menarik sedang terjadi," tulis Tom Goodwin, analis industri di TechCrunch.

Begitulah, seiring demam startup yang menghinggapi banyak sekali kepingan dunia, beberapa sukses menciptakan terobosan atau gejolak. Umumnya alasannya mengganggu status quo dari penguasa bisnis dengan metode lama, dengan model bisnis yang benar benar baru.

Uber berulangkali berseteru dengan perusahaan taksi konvensional. Airbnb bukan tak mungkin akan menjadi jaringan hotel terbesar di dunia dengan jumlah penyewa dan yang menyewakan penginapan secara online terus bertambah. Nama lain yang mungkin patut dibahas ialah Xiaomi.

Xiaomi ialah startup yang melesat cepat berkat seni administrasi gres di jagat smartphone. Mereka menunjukkan handset spek tinggi dengan harga lebih rendah dibanding kompetitor di kelasnya. Mereka tak menghamburkan biaya iklan dan berjualan eksklusif secara online.

Sama menyerupai Uber mengganggu industri taksi, Airbnb merongrong bisnis hotel, maka Xiaomi menyaingi nama besar di industri ponsel. Dan seni administrasi mereka banyak ditiru, menyerupai metode berjualan secara eksklusif lewat internet yang memangkas biaya dan sempurna sasaran.

Begitulah memang, dunia terus maju dan inovasi terjadi. "Proses distrupsi semacam ini bukan hal baru. Dulu, industri manuskrip diguncang oleh industri cetak. Dan mereka yang terguncang itu tentu saja protes," tulis Tom Hodgkinson, kolumnis Guardian yang dikutip detikINET.

"Pihak yang terganggu selalu mengeluh, tapi ini memang tetap terjadi. Pertanyaannya ialah apakah terobosan itu menciptakan lebih banyak kemerdekaan individual atau malah menuju ke arah penciptaan monopoli global," tambahnya.

Memang bila dipikirkan, Uber, Airbnb dan Xiaomi terus berekspansi secara bergairah meski menghadapi banyak tantangan. Mungkin bila tak mau ketinggalan, pemain lama harus punya terobosan juga biar tak kehilangan pasar dari mereka mereka ini.

Sumber detik.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel