Jangan Ikuti Nasib Buruk BlackBerry Android, Nokia!

Foto: The VergeFoto: The Verge

Jakarta - Banting setir menggunakan sistem operasi terpopuler dunia yakni Android, sekilas yaitu langkah mudah untuk menarik minat pembeli. Tapi kadang tak ibarat itu kenyataannya, tanyakan saja pada BlackBerry.

September tahun lalu, BlackBerry merilis Priv, handset Android perdananya. Keunggulan handset BlackBerry yang membuat mereka berkibar di masa lalu, semua dibenamkan. Dari keyboard fisik yang harus diakui memang mengagumkan hingga sekuriti yang diklaim ampuh.

Harganya tak murah, USD 699. Mungkin BlackBerry berpikir kebesaran nama mereka di masa lalu dipadu sistem operasi terpopuler di dunia, membuat banyak orang tetap akan membelinya. Namun itu tak terjadi.

Justru setelah Priv datang, BlackBerry anjlok. Di kuartal IV tahun fiskalnya yang berakhir 29 Februari lalu, BlackBerry hanya menjual 600 ribu smartphone. Jumlah itu di bawah target 850 ribu dan juga di bawah jumlah terjual di kuartal sebelumnya. Kegagalan Priv mungkin harus dibayar mahal, tutupnya divisi handset BlackBerry.

"Fokus nomor satu saya yaitu untuk tetap tinggal di bisnis hardware hingga melampaui bulan September, tapi saya juga realistis, saya tidak akan tetap di bisnis ini dan terus merugi," kata CEO BlackBerry John Chen.

Pelajaran untuk Nokia

Nasib Priv ini mungkin harus membuat Nokia waspada. Seperti diberitakan sebelumnya, Nokia yang kini fokus di bisnis infrastruktur telekomunikasi, akan kembali membuat ponsel. Mungkin rilisnya tahun depan. Sama ibarat BlackBerry, Nokia banting setir memakai Android.

Sama ibarat BlackBerry juga, Nokia yaitu nama besar di masa silam. Namun kegagalan BlackBerry memasarkan Android di segmen high end mampu menjadi pelajaran berharga. Sepertinya, Nokia tak boleh garang pribadi membuat handset Android premium.

"Smartphone solid untuk kelas mid to high mungkin tak akan menyamai Galaxy S7 atau iPhone 7, namun akan menandingi nama ibarat HTC dan Xiaomi. Merek Nokia masih berpengaruh di negara berkembang dan mungkin mereka berpotensi masuk sepuluh besar produsen ponsel tahun depan," saran Ewan Spence dari Forbes.

"Kekuatan Nokia yaitu nostalgia, dikala ponselnya mampu lama hidup dalam sekali isi ulang, dikala game terbaik di dunia yaitu Snake dan ketangguhan bodinya. Itulah jenis ponsel yang perlu dibawa kembali oleh Nokia ke pasar," tutur Ewan.

"Lupakan iPhone atau Galaxy, tim yang gres ini mampu saja membangkitkan kembali handset semacam Nokia 3310. Ponsel ini dulu terjual lebih dari 126 juta jadi terang ada permintaan. Sebuah handset yang kecil, konstruksi tangguh, yang menjalankan Android, mampu menjadi handset tipikal Nokia yang diharapkan pasar," pungkasnya.


Sumber detik.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel