Ada Masalah Apa Xiaomi?

Foto: detikINET - Anggoro Suryo JatiFoto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

Jakarta - Apa yang salah dengan Xiaomi? Sempat jadi anak emas di jagat smartphone, penjualan mereka malah terus merosot, demikian pula dengan nilai perusahaan. Apa penyebabnya?

Dikutip detikINET dari IBTimes, Jumat (19/8/2016), melesatnya Xiaomi terutama karena mereka bisa menjual smartphone hardware premium yang harganya jauh lebih murah di kelasnya. Tapi keunggulan ini tak bertahan lama. Banyak vendor mengekor seni administrasi serupa.

Terlebih lagi, para kompetitor kadang melaksanakan inovasi sambil tetap menjaga harga tetap rendah. Sebut saja Oppo dan OnePlus mengusung teknologi isi ulang cepat atau Huawei dengan dual kamera. Sedangkan Xiaomi seolah jalan di kawasan alias begitu-begitu saja.

"Saya pikir pertumbuhan Xiaomi di jagat smartphone memang mentok di dikala kompetitor dengan riset dan pengembangan serta distribusi lebih baik melampaui mereka. Ketidakmampuan Xiaomi berinovasi dengan independen yaitu salah satu alasannya," kata Neil Shah, analis di CounterPoint Research.

Masalah lain yaitu Xiaomi terus saja fokus pada smartphone murah dengan produk menyerupai Redmi. Padahal konsumen, terutama di China, terindikasi sudah mau membayar lebih untuk membeli smartphone yang lebih baik.
CEO Xiaomi Lei Jun (getty images)

Gagal Ekspansi

Di sisi lain, salah satu alasan investor sangat pede Xiaomi bisa terus meroket yaitu karena pada awalnya, Xiaomi hanya beroperasi di beberapa negara Asia saja. Bayangkan bila sudah masuk Amerika Serikat atau Eropa misalnya, Xiaomi bisa jadi pemain global.

Sayang Xiaomi tak punya bekal paten teknologi cukup untuk masuk negara maju itu. Sampai kini Xiaomi tak kunjung masuk ke sana, mungkin khawatir kena gugatan hukum. Sebagai catatan, penjualan Xiaomi sempat diblokir di India terkait duduk perkara paten. Kegagalan Xiaomi melaksanakan ekspansi pasar pun jadi salah satu alasannya yaitu kemerosotan.

Kemudian alasan lain dari yang sudah disebutkan, fanatisme penggemar Xiaomi ternyata tak sebesar yang diperkirakan. Xiaomi berulangkali membanggakan soal ini, bahwa mereka saling bertukar pikiran dengan fans fanatiknya yang berjumlah banyak.

Namun bahwasanya konsumen, khususnya di China, tidak terlalu loyal lagi soal brand. Menurut studi distributor riset Bain & Company, vendor di China harus terus merayu konsumen semoga membeli produk mereka, jadi bukan brand yang dikejar-kejar.

Xiaomi bahwasanya coba mengusung seni administrasi lain dengan menyebut diri perusahaan internet yang tak hanya menjual ponsel tapi beragam perangkat lain. Strategi yang terlihat arif mengingat pertumbuhan pasar smartphone global mulai stagnan. Tapi, investasi Xiaomi di area selain smartphone belum juga berhasil.

Penelitian dari CounterPoint Research mengindikasikan lebih dari 85% pendapatan Xiaomi berasal dari penjualan smartphone, kemudian dari software dan layanan. Sehingga bisnis di bidang lain memang belum signifikan.

Melihat beragam kondisi kurang mengenakkan itu, Xiaomi yang sering dijuluki Apple of the East ini dinilai harus segera berbenah bila tidak ingin semakin tenggelam. Bila tidak, bisa jadi mereka malah akan menjadi BlackBerry of the East.

Sumber detik.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel