Ponsel Meledak Bisa Terus Berulang

Foto: PConlineFoto: PConline

Jakarta - Jutaan Galaxy Note 7 ditarik kembali oleh Samsung sebab sebagian unit punya anomali baterai. Ujung-ujungnya, Note 7 yang sempat laris manis itu rentan meledak. Ledakan smartphone gara-gara problem baterai sebetulnya sudah banyak terjadi dan kemungkinan besar akan terjadi lagi.

iPhone contohnya, sudah banyak kasus iPhone meledak dan kadang melukai penggunanya. Belum lama ini, ponsel Xiaomi juga dilaporkan meledak di India dan China. Juga di tahun ini, Hewlett Packard dan Sony melaksanakan recall baterai komputernya sebab rentan terbakar.

Dikutip detikINET dari CNN, itu semua dikarenakan baterai lithium ion yang memang memiliki risiko. Sejak perkenalannya di awal 1990-an, lithium ion menjadi standar perangkat elektronik, dari smartphone, laptop, tablet, pemutar musik ataupun kamera.

Teknologi lithium ion memungkinkan perusahaan membuat baterai yang abadi berjam-jam di perangkat yang semakin kecil wujudnya. Tapi sayangnya, ada risiko terbakar atau meledak kalau ada cacat produksi atau faktor lain.

"Ini ialah problem yang sudah banyak diketahui. Baterai ini mampu sangat merusak," sebut Jay Whitacre, profesor di universitas Carnegie Mellon.

Ia menjelaskan, lithium ion di pasar ketika ini menggantungkan pada "solvent-based electrolytes" untuk memuat lebih banyak energi, namun elektrolit itu rentan terbakar.

Jika terjadi sesuatu yang salah, semua energi di baterai mampu 'mendidihkan' elektrolite dan menjadikan api. Namun patut dicatat kalau risiko semacam ini sangatlah langka, dengan kemungkinan kegagalan hanya satu dari sejuta baterai. Kecuali ada error ketika produksi menyerupai kasus Note 7.

"Kenyamanan menggunakan baterai lithium ion memang sangat besar sehingga sebagai masyarakat, kita mengambil risiko ini," sebut Whitacre.

Saat ini teknologi gres baterai sedang dikembangkan, namun lithium ion tetaplah standar. "Saat ini tidak ada alternatif dari lithium ion. Sulit menandinginya, mereka mampu bertahan lama, mampu terus menerus diisi ulang dan relatif aman," kata Steve Levine, penulis buku The Powerhouse: Inside the Invention of a Battery to Save the World.


Sumber detik.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel