Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di China

Foto: IstimewaFoto: Istimewa

Beijing - China tengah dilanda demam sharing bisnis memanfaatkan Teknologi Informasi. Kemudahan pembayaran menggunakan aplikasi smartphone menyerupai WeChat dan AliPay membuat startup di Negeri Panda ini berinovasi melahirkan layanan berbasis teknologi.

Ada banyak sharing bisnis di China yang memanfaatkan teknologi. Mulai dari menyebarkan sepeda (bike sharing), menyebarkan kendaraan beroda empat (car sharing), menyebarkan payung (umbrella sharing), menyebarkan daerah tidur (bed sharing), menyebarkan charger (power sharing) dan menyebarkan bola basket (basketball sharing). Dengan cukup memindai (scanning) QR-code, masyarakat di China dapat melaksanakan transaksi pembayaran.

"Jika mengendarai sepeda terasa melelahkan, menggunakan transportasi umum cukup lama, menggunakan taksi dan kendaraan beroda empat cukup mahal, kenapa tidak menggunakan car sharing. Praktis dan hemat biaya." Semboyan ini menjadi slogan bagi car sharing di China.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Di China, kita mengenal Didi Chuxing, perusahaan yang didirikan oleh Didi Kuadi yang telah berhasil membeli Uber China. Sama menyerupai car sharing di Indonesia, car sharing di China juga memerlukan aplikasi smartphone untuk memesannya.

Bike sharing menjadi dongeng sukses perusahaan teknologi di China. Bike sharing merupakan konsep penggunaan sepeda secara bersama-sama. Pada awalnya, konsep bike sharing dimulai di Amsterdam pada 28 Juli 1965 dengan nama Witte Fietsen atau White Bikes.

Kemudian berkembang di beberapa negara di Eropa, Amerika, dan Asia. Inovasi yang lebih baik diluncurkan di China. Tanpa melalui docking station (stasiun penyimpan sepeda), pengguna dapat menggunakan sepeda memanfaatkan aplikasi smartphone di mana pun sepeda berada, sehingga memberi kemudahan.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Ada aneka macam perusahaan startup yang mengoperasikan bike sharing di China. Tetapi yang cukup menonjol yakni Ofo dengan investor Didi Chuxing dan Xiaomi serta Mobike dengan investor dari Tencent dan FoxConn.

Untuk penggunaannya, cukup dengan melaksanakan scan QR-code ke sepeda sehingga dapat membuka pengunci sepeda. Transaksi pembayaran melalui transaksi elektronik dengan memanfaatkan aplikasi smartphone.

Selain menggunakan QR-code, Ofo juga dapat dibuka dengan mengirimkan instruksi sepeda ke server untuk mendapatkan instruksi pembuka kunci. Untuk pembiayaan, kita memerlukan 1 RMB (sekitar Rp 2.000) per jam atau setengah jam pemakaian dengan deposit 299 RMB untuk Mobike dan 99 RMB untuk Ofo.

Untuk pemanfaatan teknologi, Ofo lebih sederhana dibandingkan dengan Mobike. Hal ini dapat dimaklumi dengan segmen pengguna yang berbeda. Ofo menyasar kalangan pelajar dan Mobike menyasar kalangan menengah ke atas.

Sepeda Mobike telah dilengkapi chainless transmission terbaru sehingga menggunakannya lebih nyaman. Setiap sepeda Mobike memiliki intelligent lock (pengunci) berbasis sistem Internet of Things (IoT), berbeda dengan sepeda Ofo yang menggunakan mechanical lock.

Bike sharing tanpa docking station di China memang memiliki beberapa keunggulan dengan fasilitas saluran penggunaan, selain keunggulan menyerupai meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor, mengurangi pemakaian materi bakar, murah, nyaman, peningkatan kesehatan dengan bersepeda, dan kesadaran terhadap lingkungan.

Bukan Tanpa Masalah

Pertumbuhan bike sharing di China bukanlah tanpa masalah. Berbagai duduk perkara yang ada di antaranya:

1. Parkir sepeda sembarangan di pedestarian sehingga menghalangi pejalan kaki
2. Tidak adanya jaminan keselamatan dan tidak tersedianya peralatan keselamatan bersepeda menyerupai helm, dan sebagainya
3. Kekurangan komponen sepeda sebab produksi massal yang berlebihan
4. Tidak ada pembatasan umur pengguna sehingga banyak anak-anak di belum dewasa yang menggunakannya
5. Ketidakjelasan penggunaan dana deposit di awal pendaftaran.

Berbagai duduk perkara tersebut mendorong pemerintah China untuk mengeluarkan regulasi penggunaan bike sharing.

Setelah kesuksesan bike sharing, maka terbitlah bed sharing (berbagi daerah tidur). Xiangshui Space sebuah perusahaan teknologi dari Beijing mengembangkan bed sharing untuk membantu para pekerja yang memerlukan sedikit tidur setelah beraktivitas.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Bed sharing menyerupai dengan kapsul hotel di Jepang dengan fasilitas saluran penggunaan. Di dalam daerah tidur, telah tersedia lampu, kipas angin, colokan listrik, perlengkapan tidur sekali pakai, selimut, bahkan penutup telinga. Setiap orang hanya perlu melaksanakan scan QR-Code untuk menggunakannya.

Biaya penggunaannya yakni 10 RMB setiap setengah jam untuk pemakaian di jam sibuk (jam 11.00-14.00), 6 RMB untuk pemakaian di waktu lainnya, serta biaya maksimal 58 RMB dalam sehari. Akan tetapi, bed sharing tidak mendapatkan rekomendasi dari pemerintah Shanghai sebab tidak memenuhi standardisasi pengamanan kebakaran. Selain itu juga diragukan higienitasnya oleh beberapa orang, sebab pemakaian yang bergantian.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Sharing E Umbrella (startup menyebarkan payung) diluncurkan pada April 2017 dengan nilai investasi 10 juta yuan. Pengguna akan mendapatkan sebuah instruksi setelah melaksanakan pembayaran menggunakan aplikasi smartphone. Deposit pada awal pengguaan sebesar 19 Yuan dengan biaya penggunaan 0.5 Yuan selama 30 menit pemakaian.

Akan tetapi sebab ketiadaan informasi bagi pelanggan bagaimana cara mengembalikannya, mengakibatkan E Umbrella kehilangan 300.000 payung di 11 kota. Walaupun kehilangan banyak payung tidak membuat E Umbrella menyurutkan niatnya meluncurkan jutaan payung lagi di seluruh China pada final tahun. Perusahaan lain selain E Umbrella yang mengoperasikan menyebarkan payung yakni Molisan.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Basketball sharing memungkinkan kita untuk tidak membawa bola basket lagi ke lapangan. Dengan melaksanakan scan QR-code pada vending machine, kita dapat menggunakan bola basket dari Zhulegeqiu ini. Untuk dapat menggunakan kita perlu menyetorkan deposit sebesar 29 RMB dengan biaya 1.5 RMB untuk penyewaan selama sejam.

Melirik Tren Sharing Bisnis Berbasis Teknologi di ChinaFoto: Istimewa


Setiap bola basket juga telah dilengkapi GPS Tracker sehingga memudahkan pemantauan dan mencegah kehilangan. Untuk power sharing (berbagi charger) ada tiga perusahaan di China yang membuat stasiun pengisian yakni Laidian, Xiodian, dan Jiedian. Cukup dengan membayar 1 RMB dengan cara memindai QR-Code untuk pemakaian selama sejam.


Penulis, Alvian Bastian, merupakan Master Student at Information and Communication Engineering di Beijing Institute of Technology.

Sumber detik.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel