Bos Xiaomi Beberkan Rahasia Bisa Jual Ponsel Murah

Lei Jun. Foto: Anggoro Suryo Jati/detikinetLei Jun. Foto: Anggoro Suryo Jati/detikinet

Jakarta - Xiaomi dikenal sebagai produsen ponsel yang menjual ponsel dengan spesifikasi cukup tinggi namun harganya murah. Bagaimana mereka mampu melaksanakan hal itu?

Xiaomi mampu dibilang anak gres di industri ponsel, mereka gres ada semenjak tujuh tahun yang lalu. Namun mereka mampu menarik banyak konsumen dalam waktu yang terbilang singkat itu.

Salah salah satu caranya yakni dengan menawarkan harga lebih murah ketimbang produk yang sejenis. Mereka mampu melaksanakan hal itu dengan menyunat sejumlah pos yang jadi komponen penyusun harga ponsel.

Berbicara di Jakarta, Rabu (27/9/2017), CEO Xiaomi Lei Jun menyebut ada lima komponen utama penyusun harga ponsel. Yaitu materi baku, riset dan pengembangan, biaya marketing, biaya distribusi dan margin keuntungan.

"Biasanya produsen menjual ponselnya dengan harga 2,5 kali lipat harga modalnya, sementara kami hanya menjual dengan 1,1 kali harga modal," tambah Lei.

Menurutnya, dari lima pos itu, hanya dua pos yang mereka jadikan komponen penyusun harga ponselnya, yaitu materi baku dan biaya riset dan pengembangan. Sementara tiga komponen lain mampu dibilang biayanya yakni nol.

Pertama, biaya marketing. Awalnya Xiaomi memang tak mengeluarkan biaya apa pun untuk hal ini, begitu juga dengan biaya distribusi alasannya yakni mereka melaksanakan semuanya sendiri. Terakhir keuntungan, yang menurut Lei Jun juga mampu dibilang tak ada.

"Xiaomi menjual produk dengan harga murah dengan memotong keuntungan, yaitu sama sekali tak mengambil keuntungan dari hardware. Lalu pada lima tahun pertama perusahaan kami tak mengeluarkan uang sama sekali untuk pemasaran dan promosi," klaim pendiri sekaligus CEO Xiaomi tersebut.

Selain itu, Xiaomi juga memproduksi perangkat dalam jumlah yang besar, supaya mampu menekan biaya produksi seminimal mungkin. Kombinasi tersebut membuat Xiaomi mampu menjual perangkat dengan harga jual lebih rendah ketimbang perangkat lain yang sejenis.

"Produk ibarat powerbank awalnya dijual di China dengan harga 200 RMB (sekitar Rp 400 ribu), namun kualitasnya dan desainnya buruk. Lalu kami meluncurkan powerbank dengan harga 69 RMH dengan desain dan kualitas yang jauh lebih tinggi," terang Lei.

Maka tak gila kalau Xiaomi kemudian mampu mendapat market share lumayan besar di China dalam waktu yang relatif singkat.

Sumber detik.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel